Jumat, 10 Mei 2013

Andai Waktu Bisa Kuulang

Manusia adalah makhluk yang lemah. Meski Allah Subhanahu Wa Taala memberikan begitu banyak potensi, namun tak sedikit yang gagal memanfaatkan potensi-potensi itu.

Kesehatan, Kekayaan, Masa Muda, Kesempatan dan Hidup itu sendiri merupakan nikmat yang banyak tersia-sia karena ketidak mampuan mengoptimalkan ke lima hal tersebut sebaik-baiknya.

Alangkah ringannya kaki ini melangkah pada suatu tempat dan hal yang sia-sia, namun alangkah beratnya bila harus melangkah menghadiri majlis-majlis ilmu dan ibadah.
Alangkah mudahnya kita mengeluarkan uang untuk membeli kesenangan dan kemewahan dunia, namun alangkah kikir hati ini menyisihkan sebagian kecil untuk perjuangan di jalan Allah.
Betapa banyak energi dan waktu dan kesempatan kita korbankan untuk meraih popularitas, ketenaran, uang dan kesenangan dunia, namun alangkah terburu-buru atau bahkan lalai sama sekali kita menyempatkan diri untuk menuntut ilmu dan beribadah dengan khusyu' menghadap Sang Khaliq.

Betapa kita selalu berpikir bahwa masih ada hari esok untuk memperbaiki diri dan kualitas ibadah kita, namun kita selalu bergegas untuk menjemput keakayaan dan kesuksesan dunia.
Alangkah cinta kita pada dunia yang fana ini namun begitu lalai kita menmpersiapkan kematian yang merupakan pintu gerbang pada kehidupan abadi.

Kita melupakan sabda Nabi Salallahu Alaihi wa Salam yang berbunyi:
"Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara : hidupmu sebelum matimu, saat sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sempitmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu"
(Hadist riwayat Al Hakim dan Al Baihaqi)

Betapa jelas nasehat Rasulullah untuk kita, namun seringkali hawa nafsu mengalahkan semua logika dan melumpuhkan hasrat untuk mengatur hidup sebaik mungkin. Padahal jika kita berkaca pada sebuah firman Allah Subhanahu Wa Taala tentang keadaan orang-orang yang merugi di hari kiamat nanti, tentu kita akan berusaha sekuat tenaga menjadikan diri kita orang yang pandai memanfaatkan waktu dan kesempatan selagi masih hidup di dunia.

"Wahai Tuhanku, kembalikan aku ke dunia, agar aku bisa berbuat amal shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan" (Quran, Surah Al Mu'minuun 99-100)

Alangkah meruginya kita bila selama di dunia kita tak mampu memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin sehingga kelak di akhirat hanya merasakan penyesalan dan keinginan menebus kehidupan dunia yang tak mungkin kembali.


"Dan jika sekiranya setiap diri yang dzalim itu memiliki segala apa yang ada di bumi, tentu dia akan menebus dirinya dengan semua itu, dan mereka membuktikan penyesalannya ketika mereka menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan diantara mereka mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya." (Quran, surah Yunus: 54)




"Ya Rabb, akulah orang paling merugi di dunia ini, betapa banyak Engkau memberi peringatan, namun betapa sedikit aku mengingat. Betapa banyak Engkau memberi kesempatan, namun betapa sedikit aku mampu memanfaatkannya sebaik-baiknya. Ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah rahmat dan petunjuk padaku. Dan janganlah Engkau biarkan aku menjadi orang yang merugi"

Kamis, 09 Mei 2013

Satu Dirham Diganti 120.000 Dirham


Dari Fudhail bin ‘Iyadh bercerita, 
“Ada seorang laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya dengan harga satu dirham. Semula uang itu hendak digunakan untuk membeli tepung. Namun saat perjalanan pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang saling menjambak rambut satu sama lain. Ia bertanya, 
“Ada apa ini?” 
orang-orang memberitahunya bahwa keduanya bertengkar memperebutkan uang satu dirham. Maka, ia berikan uangnya yang hanya satu dirham untuk mendamaikan keduanya, dan ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan beberapa perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menjualnya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Di jalan, ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang hampir busuk. Ia pun berkata, 
“Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah anda mau menukarnya dengan barangku?” ia pun mengiakan. 

Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, 
“Isteriku, segeralah memasak ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!’ maka sang isteri segera mengurus ikan itu. Tiba-tiba ada benda bulat ditemukan dari perut ikan tersebut.

Sang isteri keheranan dan berkata, 
“suamiku, dari perut ikan ini ada benda bulat yang lebih kecil dari telur ayam, dan hampir sebesar telur burung dara.” 
Suaminya berkata, 
“perlihatkan kepadaku!” 
maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada isterinya, 
“jangan-jangan ini mutiara!” sang isteri menyahut, 
“kamu tahu, berapa harga mutiara sebesar ini?” 
suaminya menjawab, ‘tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini.”

Begitulah, sang suami membawa mutiara tersebut ke tempat para penjual mutiara. Ia mengahampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawanpun menjawab salamnya. Sambil menunjukkan barang yang ditemukan istrinya, ia bertanya, 
“tahukah anda, berapa kisaran harga benda ini?” 
cukup lama kawan memerhatikan barang itu, baru kemudian menjawab, 
“di sini saya menghargainya 40.000 dirham. Jika anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika anda menginginkan harga yang lebih tinggi, cobalah datang kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku.”




Maka ia pun pergi kepada orang yang ditunjukkan temannya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Lalu berkata, 
“Aku berani membayar barang ini 80.000 dirham. Jika anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, siapa tahu dia bisa memberi harga lebih tinggi dariku.”

Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, 
“Aku berani membeli dengan harga 120.000, dan saya kira tidak ada orang yang berani menambah sedikitpun dari harga itu!” ia pun menjual kepadanya. 

Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham, sungguh ganti yang berlipat ganda dari apa yang ia sedekahkan.


(Al-Faraj ba’dasy syiddah wadz dziiqah, Ibrahim bin Abdillah al-Haazimi)



Subhanallah, memang benar janji Alloh Ta'ala bahwa Alloh Tidak akan menyia-nyaiakan kebaikan. Dan terkadang kebaikan itu langsung diganjar dengan kebaikan lagi sebagai bentuk kebahagiaan yang disegerakan. 

Benarlah sabda Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam
“Barang siapa menolong saudaranyayang membutuhkan maka Allah ta’ala akan menolongnya.” (HR. Muslim)

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah berharga dari kisah di atas, aamiin 
  

Selasa, 23 April 2013

Rendang Padang, From Indonesia Through The World


Nusantara Yang Kaya
Indonesia adalah negeri kepulauan. Dengan wilayah yang luas dan beragam suku serta budaya. Keberagaman ini sesungguhnya merupakan berkah dan anugerah. Betapa tidak, banyaknya suku-suku yang menghuni kepulauan Indonesia juga memberi warna pada adat, bahasa, tradisi dan budaya. Termasuk di dalamnya adalah kuliner.
Indonesia memiliki beragam makanan tradisional mewakili banyak sukunya. Orang Jawa Barat memiliki batagor dan asinan. Orang Jawa Tengah bangga dengangudegnya. Jawa Timur memiliki rawon dan rujak cingur. Orang Manado membanggakan bubur manado, sambal dabu-dabu dan rica-rica. Lain lagi dengan orang Sumatera, masakan serba santan dan penuh bumbu menjadi ciri khasnya. Adalah rendang, yang merupakan ciri khas masakan melayu, terutama masyarakatMinangkabau.
Bagi masyarakat Minangrendang sudah ada sejak jaman dahulu dan menjadi tradisi untuk dihidangkan baik pada saat upacara adat maupun keseharian. Seni memasak rendang ini berkembang di wilayah serantau berbudaya melayu seperti Mandailing, Riau, Jambi, hingga ke negeri tetangga yakni Negeri Sembilan, yang banyak dihuni para perantau Melayu. Sehingga rendang dikenal secara luas di wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaya.
Sejarawan Melayu dari Universitas Andalas Prof.Doktor Gusti Asnan, menduga bahwa rendang sudah menjadi masakan yang tersebar luas sejak orang-orang Minang merantau dan berlayar ke Melaka untuk berdagang pada awal abad ke 16. Sehingga rendang juga bisa ditemukan di Malaysia dan Singapura. Bahkan karena alasan kolonialisasi, rendang juga ditemukan di Belanda dalam bentuk kalio (rendang basah/berkuah).
Rendang Padang, Masakan Terlezat Di Dunia
Pada tahun 2011, CNN mengadakan survey makanan terlezat dari berbagai Negara. Survey bertajuk World’s 50 Most Delicious Foods ini mencatatkan rendang sebagai masakan terlezat di dunia, mengalahkan masaman curry milik Thailand, yang pada tahun sebelumnya menduduki peringkat pertama. Dalam survey tersebut, nasi goreng dan sate juga masuk dalam daftar. Sayangnya jumlah makanan tradisonal Indonesia yang tercantum masih kalah banyak dengan makanan tradisional Thailand. (Republika Online)
Rencana Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif 
“Kekuatan kuliner kita sangat luar biasa untuk menarik wisatawan asing datang ke Indonesia.” kata Achyaruddin, Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konversi, Insentif dan EventKementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif(Kamenparekraf).
Nyatanya anak muda Jakarta lebih mahfum aneka masakan barat ketimbang masakan lokal. Jumlah resto yang serius menggarap kuliner lokal dalam taraf representatif terlalu sedikit untuk bisa dikatakan sebagai trend.
Hal tersebut mendorong, Marie Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencetuskan ide untuk merumuskan ikon-ikon kuliner. Sesuai Inpres no. 6 tahun 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif memasukkan kuliner dalam urutan ke-15 sebagai unsur yang dinilai dapat meningkatkan ekonomi bangsa dan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Maka dibuatlah daftar30 makanan tradisional Indonesia yang dianggap pantas masuk kancah internasional. Mulai dari ayam panggang bumbu rujak yogyakarata, gado-gado jakarta,es dawet ayu banjarnegara, hingga nasi liwet solo. Mulai rendang padang, soto ayam lamongan hingga sate ayam madura, dan masih banyak lagi.
Restu Mande, From Bandung Through The World
Adalah Bapak Amril seorang warga keturunan Sumatera Barat yang tinggal di Bandung, bersama isterinya Ibu Nenden Rospiani yang mengembangkan konseprendang kemasan. Sebagai makanan tradisional Indonesia yang sudah dikenal luas, rendang padang membutuhkan pengemasan yang hygienis, tahan lama dan mudah dibawa bepergian melintasi dunia.
Agen Restu Mande Surabaya, 08131503835
Kedua suami isteri ini bekerjasama bahu-membahu memproduksi dan menjual rendang padang dalam tampilan yang modern dan handy. Berpusat di toko mereka di kawasan Jalan Brigjen Katamso 64 Bandung yang berdiri sejak tahun 2004, maka pada tahun 2009 mereka membuat produk rendang menjadi rendang kemasan. Bapak Amril dan Ibu Nenden Rospiani juga melengkapi rendang mereka dengan sertifikasi halal LPPO Majelis Ulama Indonesia dan registrasi Dinas Kesehatan Republik Indonesia.
Hasil uji laboratorium Teknologi Pangan menetapkan masa tahan rendang padangRestu Mande selama 459 hari.Karena proses produksi dan pengemasannya yang sesuai standar, maka pantaslah rendang kemasan bermerek dagang “Randang Padang Restu Mande” ini mewakili citra makanan tradisonal Indonesia yang mampu menembus pasar dunia. Apalagi pemilik Restu Mande ini juga telah berupaya memasarkan produknya secara online dan memiliki agen yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tak lupa Randang Padang Restu Mande juga aktif mengikuti berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri diantaranya Pameran Produk Halal Internasional di Malaysia (MIHAS).
Agen Restu Mande Surabaya, 081331503835
Banyaknya orang Indonesia yang berada di luar negeri, baik dalam rangka belajar, bekerja maupun alasan lain, membuat rendang padang makin dikenal di negara lain. Mereka yang rindu rasa masakan ala tanah air, pasti menyambut gembira rendang padang dalam bentuk kemasan yang lezat, mudah disajikan dan tahan lama.
Nama rendang bisa saja dimiliki oleh Malaysia, tapi kalau rendang padang, sudah pasti milik Indonesia,” ujar pakar kuliner Indonesia, William Wongso. Jadi jangan lupa menambahkan kata padang di belakang nama rendang. Dan rendang padang paling lezat dan mendunia ya Randang Padang Restu Mande. Good!



Minggu, 14 April 2013

Something Inside of You

Manusia adalah ciptaan Allah  SWT yang paling sempurna. Dibandingkan  makhluk ciptaan Allah SWT yang lain seperti binatang, tumbuhan, alam semesta, bahkan jin dan malaikat.
Binatang dan tumbuhan tidak dikaruniai akal pikiran, sehingga jelaslah mereka tidak bisa berdaya upaya, berkreasi, ataupun memutuskan suatu perkara berdasar pertimbangan akal sehat.  Apa yang mereka ikuti hanyalah naluri hewani untuk hidup, berbiak, lalu mati. Selesai.

Jin dan malaikat memiliki keutamaan masing-masing. Jin diberikan keunikan khusus yang tidak bisa dilakukan manusia. yaitu mereka mampu mengerjakan hal-hal ajaib (dianugerahkan akal pikiran), namun sifatnya cenderung pada kejahatan dan mengumbar hawa nafsu. Sebaliknya malaikat memiliki keunikan lain, yakni  diberikan akal pikiran, tetapi mereka di anugerahi fitrah untuk selalu taat pada Allah karena bagi mereka ditiadakan hawa nafsu.

Pada diri manusia terdapat keunikan yang lengkap. Manusia dianugerahi akal pikiran, hawa nafsu dan fitrah kebaikan. Ketiganya berkumpul membentuk kesempurnaan. Maka apakah manusia akan menjadi cenderung pada kejahatan dan hawa nafsu seperti para jin?  Ataukah manusia akan mengikuti ketaatan para malaikat terhadap perintah dan larangan Allah? Dan bagaimana manusia menggunakan akal pikirannya?
Itulah yang terjadi. Itulah yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lain.

Dengan fitrah suci dan hawa nafsunya, manusia harus terus berperang setiap waktu. Manakah yang muncul dalam diri manusia sebagai pemenang? Nafsu atau fitrah? Jawabannya memunculkan apa yang kita sebut sebagai sifat seseorang tersebut. Jahat atau baik.

Sebaliknya, akal, seakan tidak terpengaruh oleh kedua anugerah yang lain. Akal mampu melesat menggapai pencapaian tertinggi (yang mampu dicapai manusia) tak peduli dia jahat atau baik. Setiap manusia yang menggunakan akalnya dengan baik dan terencana maka dia mampu melahirkan karya-karya spektakuler.

Lihatlah betapa banyak orang jahat yang mampu menemukan teknologi di berbagai bidang dan menjadikannya sebagai nilai tambah yang menguntungkan dirinya. Demikian juga bagi orang baik, peluang yang sama akan didapatkannya bila dia mampu menggunakan akal sebaik-baiknya.

Berhentikah sampai di sini? Ternyata tidak! Sumber yang baik tentu saja mengeluarkan hasil yang baik, dan sebaliknya.
Bagi orang-orang jahat, maka setiap penemuan dan inovasi selalu bermuara pada kepentingan diri mereka pribadi, dan cenderung mengabaikan kepentingan orang lain.

Lihat saja, berapa banyak negara adidaya yang menemukan berbagai  persenjataan perang canggih. Bukan untuk melindungi orang-orang lemah. Sebaliknya semua penemuannya hanya berorientasi untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Dengan berpura-pura membantu di daerah konflik, mereka sebenarnya sedang mencari celah untuk mendapatkan keuntungan lebih besar , yakni kesempatan mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia suatu negara.

Sebaliknya di tangan orang-orang mulia, akal menjadi alat untuk menemukan berbagai hal yang berguna bagi kelangsungan hidup umat manusia.Di tangan orang-orang yang beriman, akal menghasilkan suatu penemuan yang bertujuan untuk memberi sebanyak-banyak manfaat bagi manusia, sebagai jalan bagi mereka (orang-orang beriman) untuk menyempurnakan ibadah mereka kepada Rabbnya.

Tahukah anda bahwa para ilmuwan seperti Ibnu Al farabi, Al Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sinna dan masih banyak lagi adalah para ilmuwan peletak dasar semua ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia modern saat ini? Kalaulah bukan karena keinginan mereka untuk mengagungkan nama Allah di muka bumi, dan kalaulah bukan karena keinginan mensejahterakan umat manusia, maka tidak akan pernah ada cahaya ilmu pengetahuan di atas bumi ini. Pada masa keemasan Islam di bumi Andalusia,
para penjelalah, ahli geografi, ahli astronomi, ahli kedokteran, ahli mesin, ahli pertanian, ahli ekonom, ahli kelautan, ilmuwan, penemu, arsitek, seniman dan bahkan ahli peperangan, semua berlomba menemukan teknik dan strategi terbaik untuk memberi sumbangsih bagi umat manusia.

Kemuliaan manusia ditentukan bukan semata dari hal-hal fisik. Tak peduli betapa cantik, kaya, bangsawan maupun dari ras mana kamu berasal. Jika kamu tidak mampu memberikan manfaat dan terlebih hanya menimbulkan mudharat bagi manusia lain, maka apalah gunanya?

Sejarah mencatat Marie Antoinette seorang Ratu perancis yang tewas di tebas goulotine karena kemarahana rakyatnya akibat gaya hidupnya yang super hedonis di tengah penderitaan berkepanjangan rakyatnya. Hal yang lumrah terjadi pada Raja-raja dan Ratu-ratu kerajaan Eropa. Lihat saja peninggalan mereka berupa istana-istana megah yang masih abadi sampai sekarang. Maukah kita melihat bahwa semua kemewahan itu dibangun diatas penderitaan rakyat? Hal yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan para Raja dan Sultan yang memilih hidup sederhana asalkan rakyatnya sejahtera. Terlebih contoh paling mulia adalah kehidupan  Rasulullah SAW sendiri beserta para sahabat dan keluarganya yang mulia.

"...Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik, maka baik pula anggota tubuh yang lainnya. Dan bila ia buruk, maka buruk pulalah yang lainnya. Ketahuilah ia adalah hati." (Bukhari dan Muslim)

Kemuliaan tidak terletak pada banyaknya harta dan kemewahan yang kau sandang. kemuliaan terletak pada sesuatu dalam dirimu. Dalam imanmu, pengetahuanmu, kebaikan budimu, kedermawananmu, kesetiaanmu, empatimu, dan manfaatmu bagi sekelilingmu.