Sabtu, 15 Agustus 2015

Ketika Mas Gagah Pergi | Harga Sebuah Prinsip dan Keyakinan

Sekitar tahun 1996, ketika masih menjadi penulis debutan, Helvi  Tiana Rosa pernah menawarkan naskahnya pada sebuah penerbitan besar. Berbekal keyakinannya bahwa naskahnya tidak picisan, berisi pesan moral yang baik dan sudah pernah dimuat di majalah Annida, majalah remaja muslimah yang banyak memuat karya sastra Islami, maka Helvi percaya diri mendatangi kantor penerbitan tersebut.    
Gambar dari  www.sastrahelvy.com


 "Selamat pagi Mba, saya Helvi Tiana Rosa, saya punya naskah yang bagus, naskah saya ini beda dari yang lain loh, Mba.. boleh saya bertemu pimpinan redaksi atau editor penerbitan ini?" tanya Helvi pada resepsionis.
 "Oo....(menampakkan wakjah  ngga peduli) , taruh aja di situ , naskahnya"
 "Maaf mba, kalo boleh saya ingin bertemu langsung dengan editornya"
 "Kalau mau..tunggu satu jam.lagi"
 Helvi pun menunggu.
Sejam..
dua jam ..
hingga empat jam.
Kembali Helvi menemui mbak resepsionis.
"Maaf mba, saya sudah menunggu empat jam, bisa saya menemui editor penerbitan ini?"
"Kamu ini! (pasang muka kesel)),.. kamu ngga tahu ya, editor di sini sangat sibuk, naskah yang masuk tuh ribuan, tahu....udah tumpuk aja naskah kamu di situ, kalo beruntung ntar juga kamu dipanggil !! "
 Helvi pun mengambil kembali  naskahnya dan beranjak pergi.
Sebelum.sampai di.pintu keluar, Helvi berbalik dan berkata "Mbak, nama saya Helvi Tiana Rosa, HELVI TIANA ROSA , ingat itu ya mbak, suatu hari...buku- buku saya akan diterbitkan ...saya akan terkenal dan saya jamin..penerbitan mbak ini akan nangis- nangis meminta naskah ke saya....Camkan itu! "

 Sesudah itu, Helvi menerbitkan sendiri bukunya bekerjasama dengan majalah AnNida yang dipimpinnya, dan bahkan sejak sebelum dicetak, buku tersebut sudah laku 1000 eksemplar.

Selanjutnya,Helvi terus produktif menulis dan banyak penerbit yang bersedia menerbitkan bukunya. Bahkan para penerbit berebut naskahnya, termasuk penerbit yang pernah menolaknya. Tentu sangat wajar bila Helvi lebih memilih penerbit yang welcome terhadap naskahnya saat dia masih penulis debutan.
Setelah tujuh tahun, setelah hampir setiap hari penerbit yang pernah menolaknya itu menelpon, barulah Helvi bersedia memberikan naskahnya.  

  Anda mau tahu, naskah apa yang pernah ditolak penerbit itu? Dialah #KetikaMasGagahPergi atau #KMGP .
Ya naskah yang bagus tidaklah selalu mulus melalui rintangan. Butuh perjuanganpanjang dan  pantang menyerah untuk membawa apa yang kita yakini agar dikenali orang sebagai suatu karya yang bagus.     Kini ketika Helvi ingin memfilemkan karyanya, bukannya tak ada Production House yang ingin berkolaborasi dengannya. Namun di sinilah harga sebuah prinsip dan keyakinannya diuji. Helvi ingin filemnya merefleksikan apa yang diinginkan pembaca bukunya, maka setelah menolak 14 PH, akhirnya Helvi pun bertekad untuk memproduksi sendiri filemnya.

Setelah menemukan tim yang seide dan se visi, barulah Helvi bersedia memfilemkan bukunya. Namun memproduksi filem bukanlah suatu kerja yang mudah dan murah. Butuh begitu banyak biaya mulai menyeleksi pemain, membayar para kru, mempersiapkan set, gaji semua orang yang terlibat, biaya selama produksi, dan tentu saja iklan atau marketing.


Ini video pas pemain pemain #KMGP masuk ruangan loh

Bisa dipastikan puluhan miliar  rupiah yang dibutuhkan. Oleh karena itu, Helvi menggalang dana dari para pembaca bukunya untuk memproduksi filemnya, bagi mereka yang mau membeli tiket filemnya, berarti sudah membantu biaya produksi, membantu penanaman satu pohon dan sekaligus membantu anak yatim dan dhuafa dan anak-anak Palestina. Karena ke sanalah sebagian dananya akan disumbangkan. Luar biasa !!!                 ,

Untuk pemeran tokoh dalam filemnya pun Helvi tak mau main-main. Dia tak mau memilih orang yang ketika di filem memerankan tokoh-tokoh muslim muslimah sholeh-sholihah, tapi dalam keseharian mereka dugem atau memberi contoh yang tidak baik, terutama bagi para remaja yang merupakan target pasar filem ini. Maka Helvi dan timnya pun menyeleksi dengan ketat, hasilnya seorang lelaki muda penghafal Quran, mantan finalis Cak Suroboyo sekaligus mahasiswa Universitas Airlangga. Hamas Syahid Izzudin. Masha Allah..namanya mengingatkan kita akan para pejuang Palestina. Pantas saja, karena pemuda kelahiran Bengkulu 11 Maret 1992 ini adalah putera salah seorang anggota DPRD dari fraksi yang agamis.

"Maret 1992?? Itu bulan dan tahun yang sama dengan saya menulis buku itu (KMGP), dan namanya Hamas Syahid Izzudin, pas banget dengan karakter Mas Gagah yang sangat peduli pada nasib dan perjuangan bangsa Palestina" tulis Helvy dalam blog pribadinya  www.sastrahelvy.com
Selain Hafidz, Hamas juga sangat rupawan. tentu pantas menjadi idola baru bagi remaja muslim Indonesia yang haus akan sosok remaja Islam panutan.

Yang ini pas Hamas Ngafalin Quran 

Selain itu dua tokoh utama lainnya juga merupakan sosok-sosok shalih-shalihah yang berprestasi dan rupawan, masha Allah.      

Eh, bagi kita yang peduli, yuk nonton duluan filemya, hanya dengan membayar IDR 100K alias seratus ribu Rupiah, kita sudah membantu petani, menanam pohon, membantu yatim dan dhuafa di Indonesia Timur dan anak-anak korban perang Palestina.

Bagi yang punya komunitas bisa loh nonton bareng komunitasnya. Yuk para Blogger Muslimah kita nonton bareng yuk... klik  disini


15 komentar:

  1. Penasaraaaan...insyaAllah nanti nonton filmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga penasaran, sekaligus mendulung filem.yg bagus dan.mengapresiasi kerja mulia orang2 yg memegang prinsip

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Subhanallah....aku harus nonton...tfs mbak :)

    BalasHapus
  3. penasaran dengan filmnya

    BalasHapus
  4. Wiiih, udah nulis nih mbaaak. Aku baruuu aja mau ngedraft :))

    BalasHapus
  5. penasaran dengan filmnya

    BalasHapus
  6. jadi ikutan penasaran sama mas gagah ini hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk Mba Handdriati masuk barisan penasaran hehehe

      Hapus
  7. Wah, baru tahu saya. Terima kasih, saya jadi termotivasi

    BalasHapus